Pringsewu, Lampung - Di tengah hamparan sawah dan kebun singkong yang menjadi napas kehidupan warga Pekon Enggal Rejo, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, sekelompok mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) hadir membawa semangat baru. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKNT Inovasi) IPB 2026, delapan mahasiswa lintas jurusan menginisiasi dua program unggulan yang saling melengkapi: "Tani Pintar: Olah Tanah Tepat, Rotasi Hebat" dan "MOCAF: Sustainability and Improvement". Dua program ini menjadi bagian dari rangkaian besar pemberdayaan masyarakat yang mengusung tema "Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi Pertanian Berkelanjutan, Pengembangan MOCAF, dan Pengelolaan Limbah Rumah Tangga di Pekon Enggal Rejo".
Kegiatan ini berlangsung selama enam pekan, sejak 6 Juli hingga 14 Agustus 2026, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang Diki Akhwan Mulya, S.E., M.Si., serta didukung penuh oleh Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LP2AI) IPB. Tim yang diketuai oleh Khrisna Dwinanda Putra dari Departemen Ilmu Ekonomi ini beranggotakan tujuh mahasiswa lainnya dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari Agronomi dan Hortikultura, Meteorologi Terapan, Manajemen, Agribisnis, Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Ilmu Ekonomi Syariah, hingga Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, sebuah kolaborasi lintas keilmuan yang mencerminkan pendekatan pemberdayaan yang komprehensif.
Menjawab Tantangan Pertanian dengan Tani Pintar
Desa Enggal Rejo dikenal sebagai salah satu desa dengan sistem pertanian yang relatif maju di Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Komoditas unggulannya meliputi singkong, padi, jagung, cabai, dan berbagai jenis palawija, ditopang oleh kelompok tani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), dan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang aktif. Namun di balik potensi besar itu, petani setempat masih bergulat dengan persoalan klasik namun serius: serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Hama ulat dan penyakit layu daun kerap menyerang tanaman cabai, sementara hama ulat pada jagung menuntut penanganan berulang yang membebani biaya produksi. Di lahan padi dan perkebunan singkong, serangan hama tikus juga menjadi momok tersendiri bagi para petani.
Melihat kondisi ini, tim KKNT IPB merancang program penyuluhan bertajuk "Tani Pintar: Olah Tanah Tepat, Rotasi Hebat" yang dilaksanakan pada Selasa, 21 Juli 2026. Kegiatan ini menyasar petani dan perwakilan kelompok tani Desa Enggal Rejo, dengan target kehadiran minimal 15 hingga 20 peserta.Dalam penyuluhan tersebut, tim menyampaikan tiga materi utama yang saling berkaitan. Pertama, edukasi mengenai pengolahan tanah yang tepat untuk menjaga kesehatan dan keberlanjutan lahan. Kedua, pengenalan varietas tanaman baru yang lebih adaptif dan tahan terhadap serangan hama maupun penyakit setempat. Ketiga, Pengenalan OPT dari berbagai komoditas seperti OPT dari komoditas padi, jagung, cabai dan palawija lainnya serta bagaimana penanganannya. Terakhir kegiatan ini ditutup dengan peresmian kalender tanam sebagai sarana acuan untuk menerapkan sistem rotasi tamam yang terstruktur untuk memutus siklus hidup hama dan mengistirahatkan tanah dengan menyisipkan tanaman kacang-kacangan yang mampu mengembalikan unsur nitrogen ke dalam tanah secara teratur
Yang menarik, penyampaian materi dalam penyuluhan ini turut melibatkan tim ahli dari Dinas Pertanian serta petugas penyuluh setempat, dengan materi yang disusun berdasarkan kondisi riil lapangan Desa Enggal Rejo. Pelaksanaan kegiatan pun dirancang secara interaktif melalui pemberian materi yang dilanjutkan dengan sesi diskusi dua arah, di mana petani dapat berdialog langsung dengan pihak Dinas Pertanian mengenai persoalan yang selama ini mereka hadapi di lahan masing-masing. Pendekatan ini bertujuan agar petani tidak hanya menerima teori, tetapi juga mendapatkan solusi yang benar-benar relevan dan aplikatif dengan kondisi pertanian mereka sehari-hari.
Sebagai luaran nyata dari kegiatan ini, tim menyusun dan memberikan "Kalender Rotasi Tanam Spesifik Desa Enggal Rejo" di balai desa, sebuah produk fisik yang dirancang khusus berdasarkan karakteristik lahan dan pola tanam di desa tersebut. Harapannya, kalender ini dapat menjadi acuan praktis bagi petani dalam menentukan komoditas apa yang sebaiknya ditanam pada periode tertentu, sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia secara bertahap.
MOCAF: Ketika Singkong Desa Menjelma Jadi Potensi Ekonomi Unggulan Pringsewu
Jika Tani Pintar melihat akar persoalan di lahan pertanian, maka program kedua, "MOCAF: Sustainability and Improvement", menyentuh sisi hilir dari komoditas andalan desa: singkong. Inilah yang menjadi sorotan utama dari rangkaian program KKNT di Enggal Rejo, sebab MOCAF (Modified Cassava Flour) bukan sekadar inovasi olahan pangan biasa, namun representasi identitas ekonomi Kabupaten Pringsewu itu sendiri.
Pringsewu dikenal sebagai daerah agraris penting di Provinsi Lampung, dengan sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian, khususnya padi, jagung, dan singkong sebagai bahan baku MOCAF. Pemerintah Kabupaten Pringsewu bahkan telah menetapkan MOCAF sebagai program pengembangan komoditas prioritas dalam rangka diversifikasi pangan berbasis singkong lokal, mendorong integrasi kebijakan lintas sektor dari hulu hingga hilir mulai dari peningkatan produktivitas singkong di tingkat petani, penguatan kelembagaan, dukungan teknologi pengolahan, hingga perluasan akses pasar. Desa Enggal Rejo sendiri termasuk dalam enam pekon sentra di Kecamatan Adiluwih yang menjadi prioritas dalam program ini, menempatkannya sebagai salah satu simpul strategis dalam ekosistem industri MOCAF di Pringsewu.
Sayangnya, pengembangan MOCAF di tingkat desa masih berada pada tahap awal, dimana perkembangannya baru sampai tahap pembentukan serta pembimbingan kelompok MOCAF, belum memasuki tahap produksi massal. Melihat kondisi faktual di lapangan serta berdasarkan observasi kelompok terdapat beberapa tantangan. Keterbatasan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan pengadaan peralatan produksi MOCAF menjadi kendala utama. Di sisi lain, tepung MOCAF sejatinya memiliki potensi besar sebagai substitusi tepung terigu dalam industri pangan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal dan membuka peluang ekonomi kreatif berbasis komoditas asli desa.
Tim KKNT IPB melakukan kunjungan ke sentra Mocaf di Desa Tulung Agung, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu. Sebagai bagian dari persiapan, tim KKNT IPB turut berkunjung ke salah satu sentra produksi MOCAF di Desa Tulung Agung, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan industri pengolahan tepung singkong termodifikasi yang sudah lebih matang. Dari kunjungan tersebut, tim memperoleh gambaran langsung mengenai alur produksi, tantangan pengelolaan, hingga strategi pemasaran MOCAF yang telah berjalan di sana, yang kemudian menjadi bahan pembanding dan referensi dalam merancang program pendampingan yang lebih sesuai dengan kondisi dan skala usaha di Desa Enggal Rejo.
Kegiatan sosisalisasi value creation tepung mocaf bersama warga desa (sumber: Tim KKNT Inovasi IPB Enggal Rejo)
Melihat celah inilah, tim KKNT IPB merancang program pendampingan diversifikasi produk olahan MOCAF melalui praktik langsung pembuatan brownies berbahan dasar tepung MOCAF, yang dilaksanakan pada Selasa, 4 Agustus 2026 bersama ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) dan ibu-ibu setempat. Pemilihan brownies sebagai produk turunan bukan tanpa alasan: camilan ini digemari lintas usia, mudah diproduksi dalam skala rumahan, dan memiliki nilai jual yang menjanjikan sebagai produk oleh-oleh maupun konsumsi harian.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi singkat mengenai manfaat dan keunggulan tepung MOCAF dibandingkan tepung terigu konvensional. Dilanjutkan dengan pemaparan resep dan takaran bahan, peserta kemudian diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan brownies MOCAF mulai dari mencampur bahan seperti tepung MOCAF, telur, gula, mentega, dark chocolate, choco chips, bahan pengembang, hingga vanili, kemudian memanggang atau mengukus adonan hingga siap disajikan. Sesi ini ditutup dengan mencicipi hasil olahan bersama-sama, sekaligus diskusi ringan mengenai pengembangan produk lebih lanjut.
Brownies Mini dengan bahan dasar tepung Mocaf (sumber: Tim KKNT Inovasi IPB Enggal Rejo)
Antusiasme ibu-ibu KWT terlihat jelas sepanjang kegiatan. Banyak dari mereka baru menyadari bahwa tepung singkong hasil modifikasi ini ternyata bisa diolah menjadi produk yang tak kalah lezat dan bergizi dibanding tepung terigu impor. Lebih dari sekadar pelatihan memasak, program ini menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memandang MOCAF sebagai peluang usaha rumahan yang nyata dan bisa direplikasi secara mandiri di rumah masing-masing.
Sinergi Dua Program, Satu Visi Besar
Menariknya, Tani Pintar dan MOCAF sesungguhnya merupakan dua sisi mata uang yang sama dalam rantai nilai pertanian Desa Enggal Rejo. Tani Pintar menyentuh hulu memastikan lahan tetap sehat, produktivitas tanaman terjaga, dan siklus hama dapat ditekan melalui rotasi tanam yang bijak. Sementara MOCAF menyentuh hilir mengubah hasil panen singkong menjadi produk olahan bernilai tambah yang siap dipasarkan. Ketika produktivitas pertanian meningkat berkat penerapan kalender tanam dan rotasi yang tepat, pasokan singkong sebagai bahan baku MOCAF pun akan semakin stabil, menopang keberlanjutan industri MOCAF di tingkat desa dalam jangka panjang.
Sinergi ini sejalan dengan visi besar Kabupaten Pringsewu untuk menjadikan MOCAF sebagai identitas ekonomi daerah yang mengangkat derajat petani singkong lokal. Sebagaimana yang telah dibuktikan di berbagai daerah lain, pengembangan MOCAF secara terintegrasi di tingkat desa mampu memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis potensi asli daerah. Desa Enggal Rejo, dengan segala potensi dan tantangannya, kini memiliki modal awal yang lebih kuat untuk melangkah ke arah tersebut.
Harapan untuk Keberlanjutan
Program KKNT IPB di Desa Enggal Rejo tidak berhenti pada seremoni penyuluhan atau praktik memasak semata. Melalui pendekatan partisipatif, mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang mendorong keterlibatan aktif masyarakat, dengan harapan berbagai inovasi yang diperkenalkan baik Kalender Rotasi Tanam maupun keterampilan mengolah MOCAF menjadi brownies dapat terus dilanjutkan secara mandiri oleh warga jauh setelah program KKNT berakhir.
Kepala Pekon Enggal Rejo turut menyambut baik kehadiran program ini sebagai bagian dari upaya bersama membangun desa yang lebih mandiri dan sejahtera. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat lokal seperti ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Pringsewu, khususnya dalam mendukung program prioritas daerah untuk menjadikan MOCAF sebagai kebanggaan dan penopang ekonomi baru masyarakat pedesaan.
Dengan langkah kecil dari penyuluhan pertanian hingga sepotong brownies berbahan tepung singkong, mahasiswa KKNT IPB menunjukkan bahwa perubahan besar sesungguhnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dari sawah yang lebih sehat, hingga tepung lokal yang siap menjelma menjadi kebanggaan Pringsewu.